Join channel kami untuk informasi ter-update: Channel Telegram Tetua Sekte
Project utama: Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia
MANHWA CHAPTER 77 lanjut baca di novel Chapter 124, gas kan!

Return of The Mount Hua – Chapter 259

Return of The Mount Hua – Chapter 259

Apa yang akan dimulai? (Bagian 4)

Seharusnya para murid sudah sangat mengenal Chung Myung

Mereka dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka kalah dari murid sekte lain.

‘Ini masalah karena Aku bisa membayangkannya dengan sangat baik.’

‘Aku lebih baik mati.’

Chung Myung mendecakkan lidahnya saat para murid menghela nafas dalam-dalam.

“Kau tidak percaya diri?”

“T-Tidak, bukannya aku tidak percaya diri.”

“Benarkah ?? Benakah??”

Wajah Baek Sang sedikit muak.

‘Dasar sialan?’ -batin Baek Sang

“Ngomong-ngomong, Chung Myung.”

“Apa?” -jawab Chung Myung

Yeom Jin, murid kelas tiga yang diam sampai sekarang, membuka mulutnya.

“Aku tidak meragukanmu tapi …….”

“Kenapa ragu ragu? Katakan saja dengan lantang. Aku bukan tipe orang yang suka membully orang orang.”

Yeom Jin memikirkannya kata katanya sejenak dan membuka mulutnya.

“Bisakah kita benar-benar mengalahkan murid-murid dari Sepuluh Sekte Besar?”

Chung Myung mengerutkan kening.

“Apakah Kau pernah melihat ku berbohong?” -Tanya Chung Myung

“Kita bisa menang melewan mereka!.” -tegas Chung Myung

“Baiklah.”

Yeom Jin membuat ekspresi ragu.

“Apa yang Kau takutkan? Kau pernah mengalahkan Sekte ujung selatan.”

“Itu benar, tapi ….…”

Ketika Yeom jin ragu-ragu bahkan setelah mendengar konfirmasi itu, Baek Sang tersenyum pahit dan malah membuka mulutnya.

“Tidak, Kau dan murid kelas tiga yang menang. Semua murid kelas dua kalah.” -koreksi Baek Sang

“Bagaimanapun hasilnya kita semua menang.” -Ucap Chung Myung acuh

“Tidak masalah jika kau memiliki pemikiran seperti itu, tetapi kau harus berpikir secara berbeda. Jika murid kelas tiga kita bertarung dengan murid kelas dua mereka yang telah mempelajari seni bela diri tingkat lanjut Sekte ujung selatan pada saat itu, apakah kita benar-benar bisa menang?”

Menatap mata Chung Myung, Baek Sang melanjutkan.

“Kesimpulannya yang mengalahkan sekte ujung selatan adalah kau, bukan kami.” -sambung Baek Sang

“Jadi….…” -putusnya

Mendengarkan Baek Sang dengan tenang, Chung Myung dapat menyimpulkan situasinya

“Apakah Kau tidak yakin bahwa Kau dapat mengalahkan murid dari Lima Keluarga Besar atau Sepuluh Sekte Besar, yang telah menguasai seni bela diri tingkat lanjut ?” -tanya Chung Myung

“Begitulah maksud ku.” -Jawab Baek Sang

Chung Myung menyeringai.

“Agak aneh jika mendengar kau mengatakan itu. Pendekar keadilan disana (Meledek Baek Chun) berhasil mematahkan Pedang Naga sekte wudang. Gunung Hua lebih kuat dari Wudang.”

“… jangan bawa bawa aku.” -kata Baek Chun

Melihat wajah Baek Chun yang memerah karena malu, Baek Sang tersenyum ringan dan berkata,

“Bukankah Sahyung Baek Chun itu spesial?”

“…….”

Chung Myung perlahan, sangat lambat, kembali menatap Baek Chun.

“Juga Yoon Jong, Jo-Gol, Yoo Issol sama spesialnya dengan Sahyung. Semua orang mengakui bakat mereka. Tapi bakat kami tidak bisa dibandingkan dengan mereka.” -Jawab Baek Sang

“Jadi Kau tidak percaya diri?”

Baek Sang menggelengkan kepalanya.

“Chung Myung. Jangan salah paham. Sampai Kau datang, kami adalah orang-orang yang menganggap kekalahan adalah sebuah

rutinitas, Aku tidak melakukan ini karena Aku takut kalah. Aku hanya kawatir…” -Tambah Baek Sang

“lalu..?”

‘Kau tidak takut kalah, tetapi kau kawatir? Apa artinya itu?’ – Bingung Chung Myung

Baek Sang tersenyum pahit melihat tatapan tanya Chung Myung.

“Gunung Hua akan segera kembali bersinar seperti masa lalu. Aku khawatir diriku hanya akan menjadi batu sandungan bagi Gunung Hua. Saat ini orang orang pasti berpikir jika sekte Gunung Hua tidak lain hanyalah kalian (Chung Myung CS). Jadi Aku Kawatir…”

“Hmmm.”

Chung Myung menyempitkan alisnya.

Ada keheningan yang berat untuk sesaat.

Ketika Chung Myung, yang biasanya mengatakan apa-apa, menutup mulutnya, Baek Chun sedikit tidak sabar dan membuka mulutnya terlebih dahulu.

“Apa yang begitu Kau takuti? Gunung Hua sekarang sudah mendapatkan kembali seni bela diri yang sebelumnya hilang, dan bukankah kalian sudah menyerap pil Jasodan? Apa yang akan Kau takutkan jika kau bisa menyerap energi Jasodan selama waktu yang tersisa dan mempelajari teknik Pedang Twenty-Four Plum Blossom?” -tanya Baek Chun

“Sahyung. Lawannya adalah bintang yang sedang naik daun dari Sepuluh Sekte Besar dan Lima Keluarga Besar. Bahkan jika kita mengambil Jasodan, kekuatan internal mereka akan lebih tinggi dari kita.” -Kata Baek Sang

“Kau…!” -Geram Baek Chun

“Juga, kita baru saja mempelajari teknik Pedang Twenty-Four Plum Blossom, tapi aku yakin mereka telah mempelajari seni bela diri tingkat lanjut dari masing-masing sekte mereka sendiri sejak mereka masih muda.”

Baek Chun ragu-ragu sejenak dan akhirnya menutup mulutnya.

Karena dia tahu betul bahwa kata-kata Baek Sang tidak salah.

“Begitu…….”

“Ah, cukup!”

Saat itu, Chung Myung menyela Baek Sang.

“Aku kesal mendengarmu mengeluh.”

Chung Myung, yang menutupi telinganya dengan tangannya dan menggelengkan kepalanya, menegakkan bahunya.

“Jadi terus terang, Kau tidak percaya diri untuk menang melawan bintang dari sekte lain?” -Tanya Chung Myung

“… bukannya aku tidak percaya diri, tapi aku hanya khawatir ….…”

Chung Myung menepuk tangannya dan berkata.

“Kalau begitu sudah diputuskan.”

“…… Hah?”

Chung Myung yang tersenyum menunjuk ke arah Baek Chun.

“Kalau begitu kalian hanya harus sekuat dia dalam enam bulan ke depan. Hanya orang-orang yang kompeten yang dapat ikut ke kompetisi, kan?”

Mata Baek Sang muncul.

“T-Tidak, sialan. Itu musta..…” – kata Baek Sang terputus

“Oh,. Tidak sesulit itu.” -Kata Chung Myung

“…….”

Chung Myung menyeringai pada Baek Sang seperti itu.

“Senior selalu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak berguna.”

“Hah?”

“Apa menurutmu aku akan membiarkan Senior kalah dari mereka?”

“…….”

Chung Myung mengedipkan matanya.

“Jika kau sangat ingin kalah, cobalah kalah ditempat lain, jangan pada kompetisi ini.”

“…….”

Baek Sang, yang bingung, tergagap.

“Chu-Chung Myung. Maksudku …….”

“Jangan khawatir, Senior. aku tahu betul mengapa senior khawatir. aku sangat mengerti.” -kata Chung myung

“Hah?”

Kata Chung Myung dengan tatapan tajam.

“Ini semua karena kalian kurang bekerja keras! Kalian tidak akan merasa ragu jika sudah bekerja sangat keras sampai hampir mati. Tugas kalian hanya satu hancurkan semua kepala orang yang bisa kau lihat.” -Kata Chung Myung

“Aku pikir ini karena Aku tidak melatih kalian akhir akhir ini. Hhhh, aku rasa ini salahku. Jika Aku telah melatih Senior lebih keras, senior tidak akan merasa ragu sekarang! Hhhh. Itu semua karena kemalasanku!” -Kata Chung Myung

“…….”

Mata Chung Myung terlihat merah seolah-olah seperti orang gila, wajah para murid berangsur-angsur menjadi lebih pucat.

Dan segera mata mereka tertuju pada Baek Sang serempak.

‘Senior!, kenapa Kau berbicara omong kosong?’ -batin murid serempak ke Baek Sang

‘Brengsek! Sial! Sialan iiiitu!’ -Panik Baek Sang

Merasakan tatapan tajam dari belakang, Baek Sang gemetar.

‘Aku bukan satu-satunya yang berpikir begitu, sialan!’

Baek Chun, yang sedang menatap Baek Sang, yang bingung dan panik, maju selangkah sambil tersenyum.

“Jangan panik.” – kata baek chung

“Sahyung!”

Baek Sang memandang Baek Chun dengan wajah seolah bertemu Buddha di neraka.

Benar, satu-satunya orang yang bisa menghentikan orang gila ini

adalah …….

“Aku setuju dengan Chung Myung. aku telah melakukannya sebelumnya, tetapi jika kau berlatih cukup keras seolah-olah besok kau akan mati, maka kau rasa ragu yang menghantuimu itu akan hilang. Saat ini aku merasa tidak akan kalah dengan siapapun.”

“… apa?”

“Jika aku bisa melakukannya maka kau juga bisa melakukannya! Aku akan bekerja keras untuk memastikan kau tidak memiliki kecemasan bahwa kau mungkin kalah!” -Ucap Baek Chun

“…….”

Baek Chun mengepalkan tinjunya dengan kuat, Dan terlihat wajah baek sang pucat sampai terlihat rohnya akan pergi ke surga.

Aku pikir sahyung adalah Buddha yang dia temui di neraka, tetapi ternyata dia adalah seorang Asura.

‘Apa yang sebenarnya mereka lakukan saat perjalanan ke Yunnan?’

‘Mengapa orang orang ini menjadi seperti Chung Myung setelah kembali!?’ -batin semua murid

‘Ini seperti neraka sekarang!’

“Itu tidak salah.”

Lebih buruk lagi, Yoo Iseol ikut mendukung Baek Chun.

“Apa yang telah kau bangun. Itulah sumber kepercayaan dirimu.”

“Itu benar.”

Baek Chun menggelengkan kepalanya seolah dia menyukainya.

“Kata takut adalah sesuatu yang dapat kau pikirkan setelah kau berlatih seperti neraka. kalian belum pantas merasakannya.”

“… Sahyung kenapa kau berbicara seolah-olah telah mengalaminya?” -tanya Baek Sang

“Aku?” -Ucap Baek Chun

Mulut Baek Chun terpelintir.

“Yah. Aku juga tidak tahu. Aku ingin tahu apakah kau bisa mengatakan itu setelah mengalami hal yang sama sepertiku.” -jawab Baek Chun sambil teringat latihan keji dalam perjalanan ke Yunnan

“…….”

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku Yoon Jong dan Jo-Gol juga akan membantumu. Sama seperti yang telah kita lalui!” – Ucap Baek Chun bersemangat

‘Sahyung.’

‘Mengapa Kau menggertakkan gigi sambil mengatakan hal-hal baik seperti itu?’

‘Anda tidak melampiaskannya pada kami, bukan? Benar, Sahyung?’

“Iya! Kami akan membantumu juga!” -Ucap Jo Gol dan Yoon Jong

“Jangan khawatir! Saya akan melakukan yang terbaik.” -Ucap Yoo Isol

Ada beberapa hal di dunia ini yang lebih baik tidak kau pahami.

Dan

Chung Myung melanjutkan dengan wajah serius

“Ada sesuatu yang perlu Sahyung ketahui.”

“Hah?”

Chung Myung memandang semua orang sekali dan membuka mulutnya dengan suara yang sangat rendah.

“Ada kalanya Kau kalah karena Kau lemah, tetapi Kau tidak kalah karena seni bela diri Gunung Hua lemah. Jika Sahyung bisa menguasai teknik Pedang Twenty-Four Plum Blossom, tidak ada yang perlu ditakuti. walaupun itu Wudang atau Shaolin.”

Bukan suara yang sangat keras.

Itu adalah suara yang rendah, tenang, dan karenanya lebih seperti kenyataan.

“Jangan khawatir. Aku, dan Gunung Hua, akan membuat Senior dan Sahyung menjadi kuat. Sehingga tidak ada seorang pun di dunia ini yang berani mengabaikan kita.”

Baek Sang mengangguk tanpa sadar.

Apakah kata-kata Chung Myung kebenaran?

Panas yang aneh mulai mendidih di antara para murid.

‘Chung Myung sering berbicara omong kosong, tapi dia tidak

berbohong ….. yahh walau kadang dia berbohong, tetapi pada saat-

saat seperti ini …….’

‘Umm.’

‘Ngomong-ngomong, itu tidak terdengar seperti kebohongan.’

Baek Chun mengikuti kata-kata Chung Myung.

“Jangan lupa.”

Baek Chun melihat sekeliling semua orang dan berbicara dengan berat.

“Kita adalah orang-orang yang pada akhirnya harus menciptakan kembali kejayaan Gunung Hua meskipun Pemimpin Sekte, Para Tetua, dan instruktur sudah membantu kita. Kita harus menjadi bagian pusatnya, Jadi luruskan bahu Anda. Jangan lupa, kita adalah Pendekar Pedang Gunung Hua jadi banggalah dengan hal itu.”

“Ya, Sahyung!”

“Aku akan mengingatnya! Senior!”

Kratak. Kratak.

Chung Myung memutar lehernya ke kiri dan ke kanan.

“Kalau begitu aku akan anggap kalian sudah mengerti ….…” -Ucap

Chung Myung

“Hah?”

Chung Myung melingkarkan tangannya di pinggangnya dan mencabut pedangnya dari sarungnya.

“Mari kita mulai latihan neraka ini.”

Ketika Chung Myung memberikan kode anggukan kepada Baek Chun dan Yoo Iseol, mereka langsung berdiri di depan murid-murid kelas dua. Kemudian Yoon jong dan Jo-Gol berdiri di depan murid-murid kelas tiga.

“karena kita sudah menyelesaikan latihan dasarnya, mari kita tingkatkan pelatihannya. Tiga bulan. Tepat tiga bulan. aku pikir tiga bulan sudah cukup. Jika kalian bisa bertahan hidup …….”

Chung Myung tersenyum.

“Setelah latihan yang seperti neraka ini kalian lewati…”

Kalian akan layak untuk disebut seorang pendekar pedang gunung hua (translate: Plum Blossom Swordsman)”

Saat mereka mendengar julukan yang selama ini terlupakan, semua murid Gunung Hua terdiam dan gemetar.

Pada suatu waktu, julukan pendekar pedang gunung hua adalah simbol Gunung Hua.

Bahkan tidak ada dari murid murid ataupun para tetua yang berani menyebut diri mereka pendekar pedang gunung hua.

“… sebagai gantinya.”

Kata Chung Myung dengan mata dingin.

“Setiap julukan pasti memiliki harga. Mengambil sebuah julukan berarti mengambil tanggung jawab yang sesuai. Jangan berpikir kalian akan mendapatkan julukan itu hidup-hidup tanpa melihat neraka.”

Mata para murid menjadi tegas.

“Mari kita mulai, seperti yang kau katakan, jangan mengulur-ulur waktu.” -kata murid murid

“Hah?”

Chung Myung menyeringai.

Mereka yang merengek beberapa waktu yang lalu tampaknya telah mengambil keputusan sekarang.

“Ayo mulai.”

“Ya!.” ucap para murid semangat

Ketika Chung Myung menyelinap kembali, Baek Chun berteriak.

“Maju satu per satu dari depan. Setelah pelatihan dari ku selesai, kalian masih akan terus berlatih bersama Chung Myung!”

“Baik!”

Mereka yang berdiri di depan orang banyak bergegas masuk. Melihat pemandangan itu, Chung Myung menggulung sudut mulutnya.

‘Imutnya, mereka seperti anak ayam yang mengekor induknya.’

Kompetisi Seni Bela Diri murim akan menjadi tempat untuk menyatakan kebangkitan sekte Gunung Hua.

‘Waktu yang pas untuk mematahkan kepala sepuluh orang Sekte Besar pada saat yang sama.’

Chung Myung tersenyum dan menatap ke langit.

‘Sahyung.’

‘Cheon Mun Sahyung.’ -batin Chung Myung

‘Tunggulah sedikit lagi!’

‘Aku akan menyebarkan nama sekte Gunung Hua ke seluruh dunia.’

Chung Myung terkikik pelan lalu meraih pedangnya.

Waktu terus mengalir seperti air yang mengalir.

Sehari.

Dua hari.

Sebulan

Enam bulan berlalu dalam sekejap.

Dan sebelum mereka menyadarinya, hari pelaksanaan Kompetisi Seni Bela Diri Murim sudah dekat.


** 20 Chapter terbaru KLIK TRAKTEER**


 
**JOIN GRUP TELEGRAM**
https://t.me/Tetuasektegununghua

Comment

Options

not work with dark mode
Reset