Join channel kami untuk informasi ter-update: Channel Telegram Tetua Sekte
Project utama: Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia
MANHWA CHAPTER 77 lanjut baca di novel Chapter 124, gas kan!

Return of The Mount Hua – Chapter 1279

Return of The Mount Hua – Chapter 1279

Translator: Chen
Return of The Mount Hua – Chapter 1279 Aku Tidak
Salah (4)

Tergantung bagaimana Anda menafsirkannya, ini mungkin
terdengar bagus.

Namun, Im Sobyeong bukanlah seseorang yang
mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, dan
Chung Myung bukanlah seseorang yang menerima segala
sesuatunya apa adanya.

“Sepertinya kita berputar.”

“Oh? Apakah kau menyadarinya? Ya, seperti yang
diharapkan!”

Chung Myung diam-diam menjulurkan kepalanya dan
menatap laut yang pucat dan berkabut.

“Apa yang kau lihat?”
”Aku sedang memikirkan seberapa dalam kau akan
tenggelam jika aku mengikat tangan dan kakimu dan
melemparkanmu dari sini.”

“…”

“Ahh, itu terlalu baik untuk anggota sekte jahat sepertimu…”

Im Sobyeong perlahan mundur. Chung Myung
memelototinya dan berbicara.

“Jangan bercanda bajingan!”

“Oh. Itu ekspresi yang sangat blak-blakan.”

Im Sobyeong terkekeh dan membuka mulutnya.

“Sejujurnya, itulah salah satu alasannya Aku jadi
mengetahui salah satu kebenaran dunia.”

Im Sobyeong mengangkat bahu dan berkata.

“Siapa yang mengucapkan kata-kata yang tepat.”
”…”

“Aku dulu berpikir hal penting dalam kalimat ini adalah \’kata-
kata yang tepat\’. Namun kenyataannya, orang lebih fokus
pada \’siapa\’ daripada \’kata-kata yang tepat\’.”

“Bukankah itu hanya karena kau adalah bajingan Sekte
Jahat yang kotor?”

“…”

“Akan lebih aneh jika mendengar bocah dari Sekte Jahat
mengatakan hal baik. Bukankah normal jika mengira kau
sedang menipu?”

“Hm, baiklah!”

Im Sobyeong berdeham keras dan melanjutkan.

“Akan kujelaskan, agar kata kata orang sepertiku bisa di
dengarkan orang, aku butuh seseorang yang punya
pengaruh dan wibawa. Jadi, dekat dengan orang seperti
Wonsool atau Dongtak (tetua bandit mungkin) yang punya
pengikut Lebih realistis daripada membujuk orang yang
tidak mau mendengarkan kata-kataku.”

“Ah, benarkah?”

Chung Myung menyeringai dan berkata.

“Kedengarannya agak aneh sekarang setelah aku
mendengarnya.”

“Apa maksudmu?”

“Seperti katamu, kau seharusnya membujukku sekarang,
kan?”

“Itu benar.”

“Tapi kau sudah tahu aku tidak akan pedulikan?.”

“Itu benar.”

“Jadi, itu tidak masuk akal, kan?”
“Memang tidak.”

Im Sobyeong menganggukkan kepalanya. Sepertinya
maksud Chung Myung tidak salah. Sedikit kecurigaan
muncul di mata Chung Myung, seolah bertanya-tanya
apakah ada yang salah dengan dirinya.

“…Jangan melihatku seperti itu. Ada alasannya juga.”

“Hah?”

“Melihat sejarah, itu adalah hal yang cukup umum. Para ahli
strategi cerdik yang tak tertandingi mengikuti keputusan-
keputusan absurd dari seorang penguasa bodoh di saat-
saat genting.”

“Apakah begitu?”

“Itu cukup umum.”

Im Sobyeong mengangkat bahu dan menambahkan.
”Jadi, dalam kasus seperti itu, para sejarawan menafsirkan
bahwa atasan menekan ahli strategi mereka dengan
kekuasaan. Dulu Aku pikir itu sudah jelas.”

“Tapi? Apakah sekarang berbeda?”

“Ya. Setelah rambutku menjadi sedikit lebih tebal [?], aku
menyelidikinya sendiri. Tidak selalu seperti itu. Bahkan ahli
strategi yang terkenal di seluruh dunia terkadang bertindak
berdasarkan penilaian penguasa daripada penilaian mereka
sendiri di saat-saat kritis. Bahkan jika itu tidak sesuai
dengan prinsip mereka.”

“Mengapa?”

Im Sobyeong yang tadi bergumam seolah mabuk sesuatu,
tiba-tiba menutup mulutnya dan menatap ke arah Chung
Myung. Tatapannya begitu berat hingga tanpa sadar Chung
Myung terdiam.

“Mengapa kau berpikir seperti itu?”

“Hmm…”
“Sejujurnya, Aku tidak memahaminya dengan baik
sebelumnya. Tapi pada titik tertentu, Aku jadi mengerti.”

“Apa?”

“Ahli strategi juga manusia.”

“…”

Im Sobyeong berkata dengan wajah tegas.

“Seorang ahli strategi harus selalu menjadi orang yang
paling rasional, mampu melihat keadaan sekitar secara
objektif dalam situasi apa pun. Mereka tidak boleh
terpengaruh oleh emosi dan tidak boleh memendam
ekspektasi apa pun. Ya, itulah yang menjadikan seorang
ahli strategi hebat. Tapi, tahukah Anda, bahkan ahli strategi
seperti itu pada akhirnya adalah manusia.”

“…”
”Menahan emosi, terpengaruh olehnya, dan memendam
ekspektasi. Dengan kata lain…”

Tatapan Im Sobyeong beralih ke Chung Myung.

Artinya, bahkan seorang ahli strategi pun bisa tergoda oleh
kata-kata penipu.

Im Sobyeong terkekeh dan bertanya.

“Tahukah Anda kapan seorang ahli strategi merasa paling
tidak senang?”

“…”

“Momen ketika rencana yang telah mereka susun dengan
hati-hati menjadi kacau. Jadi, kapan seorang ahli strategi
merasa paling senang?”

“…”

“Saat rencana mereka yang telah disusun dengan hati-hati
menjadi kacau.”
Wajah Chung Myung berubah kebingungan. Omong kosong
macam apa ini?

Melihat ekspresi Chung Myung, Im Sobyeong mengangguk
seolah mengerti.

“Tentu saja, mungkin sulit untuk memahaminya.”

“kau berbicara omong kosong, bukan?”

“Tapi itu benar. Para ahli strategi merasakan kenikmatan
yang tak terlukiskan ketika rencana mereka selaras dengan
sempurna, tapi di saat yang sama, ketika sesuatu di luar
cakupan perhitungan mereka terjadi dalam kenyataan,
mereka ingin melihatnya tanpa henti.”

“…”

“Jadi terkadang mereka mulai berharap. Ini mungkin omong
kosong yang tidak masuk akal, tapi jika omong kosong itu
benar-benar bisa membalikkan keadaan, kami mulai
berharap.”
”…Aku tidak mengerti sama sekali.”

“Dojang mungkin tidak mengerti. Karena kau belum pernah
melihatnya terjadi.”

Cahaya aneh muncul di mata Im Sobyeong.

“Para ahli strategi tidak selalu merasa seperti ini sejak awal.
Namun ketika seseorang memaksakan rencana yang
mereka tolak, dan menciptakan sesuatu yang melampaui
apa yang mereka prediksi, itu adalah perasaan yang tak
terlukiskan.”

“…”

“Jadi terkadang mereka mulai berharap. Ini mungkin omong
kosong yang tidak masuk akal, tapi mereka mulai berharap
bahwa omong kosong itu bisa membalikkan keadaan.”

Chung Myung memandang Im Sobyeong. Sebagai
tanggapan, Im Sobyeong mengangkat bahu.
“Tentu saja, sering kali, hal itu hanya berakhir menjadi
angan-angan saja dan tidak lebih.”

“…”

“Itulah sebabnya aku tidak menghentikanmu. Aku tidak tahu
apakah pilihan ini akan membawaku pada kematian sia sia,
tetapi dalam situasi saat ini, bahkan jika aku menghindari
kematian seekor anjing, satu-satunya hal yang aku hadapi
adalah kematian yang rasional.”

Chung Myung mengangguk seolah mengerti.

Istilah “kematian rasional” tidak sepenuhnya salah. Dengan
kekuatan Aliansi Kawan Surgawi saat ini, mereka tidak
dapat menangani Aliansi Tiran Jahat dan Sekte Iblis.

Berpikir logis, dan bertindak logis, satu-satunya hal yang
bisa mereka hadapi adalah kematian yang adil dan pantas.

“Meski kedengarannya masuk akal, pada akhirnya, ini
tetaplah pertaruhan. Bukankah itu maksudmu?”
”Aku tidak akan menyangkal hal itu.”

Im Sobyeong mengangguk.

“Para ahli strategi berpikir sesuai dengan logika. Dengan
kata lain, situasi di luar logika sulit untuk dihitung.
Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana Aliansi Kawan
Surgawi berencana menghadapi Aliansi Tirani Jahat dan
Sekte Iblis secara bersamaan, dalam situasi ini Aku bahkan
berpikir itu tidak mungkin.”

Itu adalah pernyataan yang dingin. Namun, sebagai ahli
strategi yang perlu memahami keseimbangan antar
kekuatan secara akurat, pernyataan tersebut sepenuhnya
masuk akal.

“Aku membutuhkan seseorang untuk mewujudkannya.”

“…”

“Bahkan jika mereka mengusulkan metode yang
sepenuhnya tidak rasional dan tidak dapat dipahami.”
Im Sobyeong terdiam beberapa saat sebelum tertawa.

“Apa yang bisa kulakukan? Jika itu satu-satunya jalan, aku
harus melakukan yang terbaik.”

Mendengarkan dengan tenang, Chung Myung menyeringai.
Ahli strategi di depannya sepertinya tidak mengerti betapa
kontradiktifnya kata-katanya. Tidak, mungkin dia tahu tapi
memilih untuk mengabaikannya.

“Sepertinya ada kesalahpahaman…”

“Ya?”

“Aku bukan orang seperti itu.”

Chung Myung menatap ke laut di kejauhan dan berbicara.

“Aku paham ekspektasimu terhadapku, tapi aku bukan tipe
orang seperti itu. Aku bukanlah orang yang menerima
ekspektasi; sebaliknya, aku adalah orang yang memberi
ekspektasi. Jadi, aku harus menjadi pedang.”
Tatapan Chung Myung sekilas beralih ke geladak. Bukan ke
arah murid-murid Sekte Pulau Selatan yang sedang duduk-
duduk, tapi ke arah murid-murid Sekte Gunung Hua yang
muncul di geladak.

“Ada orang lain yang harus memimpin.”

“Hmm.”

Im Sobyeong menyeringai dengan ekspresi geli sambil
memiringkan kepalanya.

“Yah, menurutmu itu akan bertahan berapa lama?”

“Hah?”

“Orang-orang yang salah mengartikan peran mereka adalah
hal yang lucu. Mereka membatasi peran mereka sendiri,
mendefinisikan dan mengaturnya sendiri.”

Chung Myung membalikkan wajahnya yang tanpa ekspresi
kembali ke laut.
“Jika aku menjelaskannya, kau mungkin tidak akan
mengerti.”

“Tidak, Aku mengerti.”

“Apa?”

Im Sobyeong menjawab dengan santai.

“Betapa kerasnya kau terhadap dirimu sendiri.”

Mata Chung Myung sedikit menggelap.

“Aku tidak tahu bagaimana masa lalu mu. Aku hanya tahu
bahwa kau pernah mengalami sesuatu yang tidak
terbayangkan. Dan para murid Sekte Gunung Hua di sana
mungkin tau sedikit, meskipun mereka tidak akan
mengatakannya dengan lantang. Mereka hanya
menyimpannya untuk diri mereka sendiri.”

“…Apa yang ingin kau katakan?”

“Ini kontradiktif.”
”Kontradiktif?”

“Ya.”

Im Sobyeong menyeringai licik.

“Bukankah kesimpulannya kau tidak bisa menjadi pemimpin
hanya dengan pengalaman saja? Jadi kenapa Aku tidak
bisa menebak apa yang terjadi, sedangkan kau bisa
mengetahuinya?”

“Ya.”

“Dan ketika Anda mengatakan pihak lain bisa memimpin,
meskipun saat ini belum demikian, bukankah itu karena
Anda yakin mereka bisa berkembang?”

“Itu benar.”

Chung Myung mengangguk patuh. Im Sobyeong
memandang Chung Myung dengan ekspresi penuh arti.
“Itulah kontradiksinya.”

“Apa?”

“Mereka yang berkembang. Nantinya, merekalah yang akan
memimpin Kangho.”

“…”

“Tapi daripada menunggu hal itu terjadi, bukankah lebih
masuk akal jika kau yang memimpin sekarang?”

“Apa?”

Untuk sesaat, Chung Myung tampak seperti baru saja
dipukul.

“Daripada menunggu para pemula ini berkembang hingga
mereka bisa memimpin Kangho, bukankah lebih masuk akal
jika kau, yang sudah unggul, untuk memimpin?”

“Itu…”
“Itulah mengapa ini menarik.”

Tatapan Im Sobyeong mereda.

“kau mengeluarkan semua potensi orang lain sambil
mengevaluasi dirimu sendiri dengan sangat keras. Seolah-
olah kau melihat dirimu sebagai mayat yang sudah lama
mendingin.”

“….”

“Tentu saja, caramu mengevaluasi diri sendiri adalah
kebebasanmu. Tidak ada alasan kami harus menerima
evaluasi itu apa adanya.”

Suara Im Sobyeong menembus telinga Chung Myung.

“Namun, pertimbangkan satu hal dengan hati-hati. Apakah
evaluasi dirimu akan menentukan masa depan Sekte
Gunung Hua dan Aliansi Kawan Surgawi? Dan apa yang
orang lain harapkan darimu?”

Chung Myung tetap diam.
Melihat ekspresinya, Im Sobyeong tidak melanjutkan
pembicaraan. Dia bukan orang yang menahan diri untuk
berbicara, tapi dia tahu bagaimana membedakan mana
yang boleh dan tidak boleh diucapkan.

Tidak ada seorang pun yang tidak mengetahui bahwa topik
ini seperti zona terlarang (禁域) bagi Chung Myung.

“Masih ada lagi yang ingin kukatakan, tapi…”

Im Sobyeong menoleh dan melihat orang yang mendekat ke
arah ini.

“Sekarang setelah seorang penggerutu profesional muncul,
aku akan pergi dulu.”

Mendengar kata-kata itu, Chung Myung juga sedikit
mengalihkan pandangannya.

Baek Chun mendekat.
Saat Im Sobyeong tersenyum dan melangkah mundur, Baek
Chun berdiri diam di tempat Im Sobyeong tadi berada. Lalu,
dia diam-diam menatap ke laut.

Untuk beberapa saat, baik Chung Myung maupun Baek
Chun terdiam, hanya menatap laut yang tak berujung.


** 20 Chapter terbaru KLIK TRAKTEER**


 
**JOIN GRUP TELEGRAM**
https://t.me/Tetuasektegununghua

Comment

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Options

not work with dark mode
Reset