Join channel kami untuk informasi ter-update: Channel Telegram Tetua Sekte
Project utama: Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia
MANHWA CHAPTER 77 lanjut baca di novel Chapter 124, gas kan!

Return of The Mount Hua – Chapter 1135

Return of The Mount Hua – Chapter 1135

Translatator: Chen

Return of The Mount Hua – Chapter 1135 Ayo Akrab

(5)

Krakk!

Baek Chun, yang terakhir berdiri, sebuah koin tua

berlumuran keringat menempel di dahinya.

Krakk!

Koin kayu itu hancur berkeping-keping, dan Baek Chun,

dengan mulutnya berbusa, terjatuh ke belakang.
Bletak.

Dari dahinya, uap putih bersih mengepul.

Setelah Tang Gun-ak mengalahkan Baek Chun yang

melawan sampai akhir, dia dengan santai menepis tangan

yang melempar koin tersebut.

“Memang benar, Sekte Gunung Hua cukup tangguh.”-

ucap Tang Gun-ak

“Dibandingkan dengan mereka, bajingan Keluarga Tang

tampaknya tidak memiliki banyak ketekunan?” -ucap

Chung Myung
”…Apakah begitu?” -ucap Tang Gun-ak

Anggota Keluarga Tang, yang sedang berbaring,

mendengar percakapan singkat itu dan gemetar. Bahkan

tanpa mengangkat kepala, terlihat jelas bagaimana Tang

Gun-ak memandang rendah mereka.

“Yah, mau bagaimana lagi. Orang-orangmu menuruni

gunung berbahaya itu sementara anak-anak Keluarga

Tang hidup nyaman di tanah subur Sichuan. Bisakah kita

membandingkannya?” -ucap Tang Gun-ak

“…Apakah maksudmu Keluarga Tang kekurangan racun

karena mereka hidup dengan nyaman?” -ucap Chung

Myung
”Hahaha. Itu lelucon yang lucu. Mengatakan bahwa

Keluarga Tang kekurangan racun. Hahaha.” -ucap Tang

Gun-ak

“…”

“Ha ha…” -ucap Tang Gun-ak

“…”

“Bukankah itu sebuah lelucon?” -ucap Tang Gun-ak

Kwang!
Suara tajam Tang Gun-ak menggemeretakkan giginya

terdengar jelas. Mendengar suara menakutkan itu, mereka

yang sedang berbaring menggigil lagi.

\’Tidak, orang gila itu…\’

\’Kenapa dia memancing orang seperti itu?\’

Sementara orang-orang yang terjatuh merasa ingin

muntah darah, Chung Myung tidak pernah mempedulikan

hal-hal seperti itu di masa lalu, dan dia tidak akan

mempedulikannya di masa depan.

“Oh, kalau dipikir-pikir, itu mungkin tidak benar.” -ucap

Chung Myung
”…Maksudnya itu apa?”

Chung Myung menggelengkan kepalanya, menopang

bagian belakang kepalanya dengan tangan dengan ibu jari

dimasukkan.

“Kalau dipikir-pikir, mungkin bukan karena

kenyamanannya. Keluarga Namgung, yang tumbuh lebih

nyaman dan murah hati dibandingkan Keluarga Tang,

ternyata sedikit lebih tangguh.” -ucap Chung Myung

“…”
”Lalu kenapa Keluarga Tang begitu? Aku benar-benar

tidak tahu. Apakah ini nasib buruk? Atau itu bawaan…

uhuk.” -ucap Chung Myung

Untuk sesaat, tatapan berbisa Tang Gun-ak terfokus pada

Tang Pae dan Tang Zhan. Mereka yang sudah

mengawasinya dengan cepat menundukkan kepala ke

tanah.

“…Aku kira alasannya tidak penting. Mengubah hasil

adalah hal yang penting.”

“Yah, itu benar. Tapi itu bukan hal yang mudah untuk

dilakukan.”
”Meski tidak mudah, itu harus dilakukan. Bagaimana pun

caranya.”

Air mata transparan mengalir di mata Tang Pae.

Tang Gun-ak hari ini berbeda dengan kemarin. Tentu saja,

dia menyerang mereka dengan penuh semangat kemarin,

tapi hari ini, entah kenapa, dia merajalela seolah-olah ada

pisau di mulutnya.

Memikirkan Tang Gun-ak yang menyemburkan api dari

matanya saja sudah membuat celananya basah, jadi

kenapa orang itu memicu orang seperti itu! Mengapa!

Bajingan Tao sialan itu!
Sementara itu, Chung Myung melirik orang-orang yang

berserakan dan membuka mulutnya.

“Untungnya, waktunya masih cukup. Dari kelihatannya,

sepertinya mereka masih perlu dikalahkan lebih lama

lagi.” -ucap Chung Myung

“Aku tidak tahu apakah ini beruntung atau tidak.”

Menanggapi perkataan Tang Gun-ak, Chung Myung

menyeringai dan berteriak pada mereka yang berpencar.
“Kami akan melakukan latihan yang sama besok.

Bersiaplah untuk tampil dengan baik.” -ucap Chung

Myung

“….”

“Yah, meski kalian sudah bersiap, hasilnya mungkin akan

sama. Hehehehe.” -ucap Chung Myung

Chung Myung berbalik dan meninggalkan tempat latihan.

Para tetua dan Maeng So mengikuti di belakangnya,

melihat sekilas orang-orang yang terjatuh.
Satu-satunya yang tidak mengikuti Chung Myung dan

tetap di tempatnya, Tang Gun-ak, membuka mulutnya

dengan cemberut.

“Sogaju.” -ucap Tang Gun-ak [Tang Pae, bukan Dowi]

“….”

“Sogaju.” -ucap Tang Gun-ak

“Ya, ya! Gaju-nim!” -ucap Tang Pae

Tang Pae mengangkat kepalanya dengan kaget. Pada

saat itu, dia menghadapi tatapan Tang Gun-ak yang

sangat tajam. Tang Pae gemetar.
Tatapan yang jarang terlihat akhir-akhir ini. Seperti

penampilan Tang Gun-ak sebelum bertemu Chung

Myung.

“Setiap orang harus melakukan setidaknya dalam batas

minimal” -ucap Tang Gun-ak

“Maaf, Gaju….” -ucap Tang Pae

“Apakah ada di antara kalian hari ini yang telah

menunjukkan diri mereka layak menyandang nama

keturunan Keluarga Sichuan Tang?” -ucap Tang Gun-ak

“….”
“Pedang Kesatria Gunung Hua mungkin mengatakannya

dengan bercanda, tapi bagiku, itu tidak hanya terdengar

seperti lelucon. kau tidak punya alasan untuk membela

diri, tidak ada alasan untuk putus asa, karena semuanya

sudah diberikan kepadamu tanpa kau harus berusaha

mendapatkannya.” -ucap Tang Gun-ak

Tang Pae diam-diam menundukkan kepalanya tanpa

mengucapkan sepatah kata pun.

“Sebagai hukuman… Hari ini, Keluarga Tang akan

berpuasa.” -ucap Tang Gun-ak

“…Ya.”
Tidak ada ruang untuk alasan karena mereka belum

membayar makanan mereka.

Dengan tatapan tanpa emosi, Tang Gun-ak melihat

sekeliling ke semua orang dan segera meninggalkan

tempat latihan. Pada saat yang sama, Tang Pae, yang

telah bertahan, pingsan seolah kekuatannya habis dan

kepalanya terbanting ke tanah.

* * * Ditempat lain * * *

Setelah beberapa saat, Jo Gol sambil mengerang,

mengangkat tubuhnya dengan susah payah.
”Ughhh….Mereka benar benar menghajar kita.” -ucap Jo-

Gol

Suaranya penuh frustrasi dan kelelahan. Jo Gol, melirik

orang yang terjatuh di sampingnya seperti mayat,

berbicara.

“Sahyung.” -ucap Jo-Gol

Masih tidak mendapat respon, dia menjulurkan kakinya

dan mendorong sisi tubuh Yoon Jong.

“Sahyung, apakah kau masih hidup? Sahyung.” -ucap Jo-

Gol
Mencolek. Mencolek.

“Apa kau Mati?” -ucap Jo-Gol

“…Aku belum mati, brengsek.” -ucap Yoon Jong

“Oh, tidak. Kupikir kau sudah mati.” -ucap Jo-Gol

“….Ugh.”

Erangan keluar dari mulut Yoon Jong.

Jika dia masih punya sisa tenaga, dia akan menendang si

brengsek Jo Gol itu tanpa ampun. Tapi sekarang, dia

kelelahan sampai pada titik di mana meskipun Aliansi
Tiran Jahat, bukan Jo Gol, yang mengamuk, dia tidak bisa

berbuat apa-apa. Yang terpenting, bagian atas kepalanya

tempat dia menerima pukulan dari Chung Myung sangat

sakit hingga bahkan sulit untuk membuka mulutnya.

Bagaimana bisa pria itu, Jo Gol, punya sisa tenaga untuk

mengolok-oloknya setelah melalui hal yang sama? Orang

itu dipukuli dua kali lebih banyak.

“Tapi bukankah ini terlalu kasar?” -ucap Jo-Gol

“Apa?”

“Yah… maksudku, jujur saja. Kita melawan Chung Myung,

Tang Gaju-nim, dan bahkan para Tetua. Strategi macam
apa yang kita miliki untuk melawan mereka! Ini bukan

latihan. Ini adalah pemukulan yang disamarkan sebagai

pelatihan.” -ucap Jo-Gol

“Apa yang tiba-tiba kau bicarakan? kau selalu dipukuli.” –

ucap Yoon Jong

“Hah? Kalau dipikir-pikir itu….” -ucap Jo-Gol

Jo Gol memiringkan kepalanya. Sementara itu, Yoon Jong

menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak mengatakannya

dengan lantang, tapi dia memikirkan hal yang sama.
Jika dilihat dari segi jumlah, mungkin terlihat wajar jika

mereka menang, namun, seperti ditekankan berulang kali,

perbedaan jumlah tidak terlalu berarti bagi Kangho.

Orang dewasa dapat mengerahkan kekuatan paling

banyak sepuluh kali lipat dari kekuatan anak berusia enam

tahun. Namun, itu tidak berarti bahwa orang dewasa

sepuluh kali lebih kuat daripada anak-anak.

Itu tidak akan terjadi, tetapi jika orang dewasa menyerang

anak-anak berusia enam tahun dengan serius, bukankah

mereka akan mampu mengalahkan seratus anak, bukan

hanya sepuluh?
Perbedaan antara ahli absolut di Kangho dan orang-orang

di bawahnya bahkan lebih besar.

Setidaknya Gunung Hua telah menghadapi situasi seperti

itu beberapa kali, setelah sekian lama bergaul dengan

Chung Myung, tapi masalahnya adalah…

Yoon Jong melirik mereka yang tergeletak di tanah. Dia

tidak bisa melihat ekspresi orang-orang yang berbaring,

tapi dia bisa melihat wajah orang-orang yang berbaring

telentang sambil menatap ke langit.

Yoon Jong sampai pada kesimpulan yang rapi.

“Mereka sudah menyerah.” -ucap Yoon Jong
Orang yang dengan percaya diri menulis jawaban

sempurna di ruang ujian dan pergi dengan jaminan lulus,

hanya untuk menyadari bahwa dia bahkan belum menulis

namanya di lembar jawaban malam itu, bukankah dia

akan memasang wajah seperti itu ketika dia

menyadarinya?

Tidak, malahan, kondisi orang-orang itu tampak lebih

buruk, hingga ke titik di mana wajah mereka terlihat

kehabisan semangat. Yoon Jong sepenuhnya memahami

perasaan mereka.

“Awalnya kita juga seperti itu.” -ucap Yoon Jong
Meskipun Kangho penuh dengan seniman bela diri,

sangat sulit menemukan seseorang yang diakui sebagai

ahli puncak di mana pun. Sekalipun suatu sekte memiliki

satu atau dua, sekte tersebut dapat dianggap sebagai

sekte yang bergengsi.

Jadi, meski ada banyak seniman bela diri Kangho,

sebagian besar belum pernah melihat wajah ahli puncak

sepanjang hidupnya.

Mereka yang tergabung dalam sekte bergengsi memiliki

keadaan yang relatif lebih baik karena memiliki

kesempatan untuk bertemu dengan sesepuh sekte

mereka.
Namun para tetua yang bergengsi sekalipun, yang sibuk

meningkatkan keterampilannya sendiri, tidak akan mudah

bergaul dengan anak-anak yang seperti segerombolan

lalat. Paling-paling, mereka mungkin memberikan

beberapa ajaran kepada anak-anak berbakat untuk

dimainkan.

\’Melihat murid-murid itu hampir pingsan setelah diserbu

sungguh lucu.\’

Akan aneh jika roh mereka tidak meninggalkan tubuh

mereka setelah merasakan energi ahli puncak secara

langsung.
”Ah.”

Pada saat itu, Baek Chun, yang jatuh terakhir, terhuyung

dan berdiri, mengayunkan bagian atas tubuhnya.

“Seperti yang diharapkan, Sasuk, kau cepat pulih.” -ucap

Jo-Gol

“Yah, kaulah yang paling sering dipukuli.” -ucap Yoon

Jong

“Benar. Aku sudah sering dipukuli, tapi itu tidak seberapa

dibandingkan dengan Sasuk.” -ucap Jo-Gol
Mendengar kata-kata pujian/ejekan, Baek Chun

memelintir wajahnya.

“Sialan…” -ucap Baek Chun

Dia menggertakkan giginya.

\’Berurusan dengan Chung Myung saja sudah membuatku

gila.\’ -ucap Baek Chun

Menghadapi Chung Myung sendirian, yang mampu

menyapu seluruh Sekte Gunung Hua, bukanlah tugas

biasa. Namun, di tengah-tengah itu, Maeng So, yang lebih

menarik perhatian daripada Chung Myung karena ukuran

tubuhnya yang besar, melompat seperti binatang buas,
dan di antaranya, senjata tersembunyi Tang Gun-ak

beterbangan.

Saat mereka menemukan celah, para tetua dari masing-

masing sekte akan mengisinya, membuat situasi menjadi

tidak berdaya.

Tentu saja, jumlah mereka yang menerima pelatihan juga

meningkat, tapi…

“Itu menghambat kita.” -ucap Yoo Iseol

Mendengar kata-kata lugas Yoo Iseol, Baek Chun merasa

sangat berempati.
\’Aku lebih suka tidak memilikinya.\’ -ucap Baek Chun

Dia tidak pernah membayangkan skenario dimana sekutu

akan menjadi penghalang. Tapi situasi absurd itu terjadi di

tempat latihan ini.

Meski sudah mengembangkan diri dengan sempurna

untuk menghadapi Chung Myung, ternyata tidak ada

gunanya. Yang lain ikut campur ke arah pergerakan

mereka, dan suasana kacau sekte lain menyebar

langsung ke Sekte Gunung Hua.

Ia bahkan berpikir situasinya akan lebih baik jika Gunung

Hua sendiri yang menangani Chung Myung, Maeng So,

dan Tang Gun-ak tanpa yang lain.
\’Apakah perang memang serumit ini?\’ -ucap Baek Chun

Dia selalu berpikir bahwa yang harus dilakukan untuk

menang hanyalah membangun pasukan yang lebih kuat.

Tapi apa yang dia lihat di tempat latihan hari ini sudah

cukup untuk mengubah pemikirannya secara mendasar.

\’Memusatkan terlalu banyak kekuatan pada satu tempat

dapat merugikan.\’ -ucap Baek Chun

Jadi apa yang harus dia lakukan? Menggabungkan

kekuatan akan menghalangi satu sama lain, dan tidak

bergabung akan membuat mereka tidak mampu

menghadapi musuh yang kuat.
”Bukankah… setiap sekte tidak punya pilihan selain

bergerak secara terpisah, dengan beberapa orang

berkeliling untuk mendukung di mana mereka didorong?” –

ucap Yoon Jong

Baek Chun mengangguk berat mendengar kata-kata Yoon

Jong.

Dia tidak salah. Dalam situasi seperti ini, itulah yang

terbaik. Tapi itu sebabnya….

Saat itulah.

“Brengsek!” -ucap Baek Chun
Salah satu murid Istana Binatang melompat berdiri,

wajahnya bengkak karena marah.

“Kenapa kau terus melayang di depan kami? Pemimpin

Istana bukanlah tandingan orang sepertimu! Bahkan

pedang asli pun tidak bisa menembus tubuhnya, jadi apa

yang akan kau lakukan dengan pedang kayu?” -ucap

murid istana binatang

Mata Jo Gol membelalak mendengar kata-kata itu.

“Apakah kau baru saja mengatakan itu kepada kami?” –

ucap Jo-Gol
“Ya, kau bajingan Gunung Hua, apa yang kau lakukan

menghalangi jalan kami dengan pedang bodohmu yang

berkibar? kaulah alasan kami tidak bisa bertarung dengan

baik!” -ucap murid istana binatang

Murid Gunung Hua ternganga. Pemblokiran? Siapa dia

yang berbicara tentang memblokir orang?

“Oi….” -ucap Jo-Gol

Tapi tidak perlu berdebat dengannya. Karena ada orang

lain yang tersinggung dengan perkataan itu.

“Sungguh sekelompok orang bodoh yang berbicara

omong kosong. Jika kau tidak menghalangi dan
membiarkan kami dan Sekte Gunung Hua bergabung,

segalanya akan jauh lebih baik.” -ucap murid istana es

“Apa, karena kalian sama-sama menggunakan pedang?” –

ucap murid istana binatang

“Itulah kebenarannya, dan kalian tidak membantu!” -ucap

murid istana binatang

Istana Es segera memihak Gunung Hua.

Im Sobyeong, yang mendengarkan, mendengus.

“Jika itu masalahnya, kalian berdua bisa bertarung habis-

habisan.” -ucap Im Sobyeong
Namgung Dowi lalu mengertakkan gigi dan menyela.

“Jangan mengkritik sekutu kita, mengapa menciptakan

ruang untuk perpecahan!” -ucap Namgung Dowi

“Ya ampun. Namgung yang tampan berbicara dengan

bajingan Sekte Jahat kotor ini. Kita harus memberi tahu

Istana Kekaisaran.” -ucap Im Sobyeong

“…Apa?!” -ucap Namgung Dowi

Mereka secara terang-terangan saling mengejek dan

menyalahkan. Keretakan emosi di antara mereka telah
menjadi begitu dalam bahkan dalam situasi ini, mereka

saling mengertakkan gigi.

Baek Chun menghela nafas dalam-dalam.

\’Aku tidak yakin apakah ini benar, Chung Myung.\’ -ucap

Baek Chun

Tatapannya mengarah ke tempat Chung Myung pergi.


** 20 Chapter terbaru KLIK TRAKTEER**


 
**JOIN GRUP TELEGRAM**
https://t.me/Tetuasektegununghua

Comment

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Options

not work with dark mode
Reset