Siapa yang Menjadi Perhatian? (Bagian 3)
Jumlah anjing yang dibawa oleh Klan Namman Yasugung mencapai seratus ekor.
“Tidak. Bagaimana aku bisa mengusir anak-anak anjing ini?” –ucap seorang murid Gunung Hua
“Haruskah kita tinggalkan saja yang kelaparan?” –tanya seorang murid Gunung Hua
“Orang-orang Jungwon ini dingin, sangat dingin.” –balas seorang Anggota Klan Namman
“…….”
Di bawah tatapan penuh celaan, murid-murid Gunung Hua mendapati diri mereka tanpa pembelaan.
Gunung Hua, yang berada dalam bahaya menjadi tempat yang tidak peka dan menjadi pemuja uang yang tidak peduli meskipun ada anjing-anjing yang mati kelaparan.
Untungnya, masalah pengelolaan anjing-anjing ini dapat diselesaikan dengan lebih mudah.
Khaak!
Chak!
Khaak!
Chaak!
Para seniman berulang kali mengerjap-ngerjapkan mata melihat pemandangan aneh yang terjadi di hadapan mereka.
“Apa-apaan itu?” –ucap seorang pendekar pedang
“…Itu aneh.” –ucap seorang seniman bela diri
“Aku bahkan tidak bisa memahami apa yang kulihat Meskipun mataku terbuka lebar.” –ucap seorang pendekar pedang
Tatapan mereka semua tertuju pada satu tempat.
Sebuah kaki kecil seputih salju mengarah ke bawah, sangat cocok untuk dipanggil imut.
Melihat hal ini, anjing-anjing dengan berbagai ukuran dengan cepat dan cekatan berbaring di tanah.
Swaek
Saat kaki kecil itu menunjuk ke atas lagi, anjing-anjing itu melesat bagaikan kilat, dan saat kaki itu membentuk lingkaran di udara, anjing-anjing itu berguling-guling di tanah.
Akan sulit dipercaya jika mereka tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, tetapi mereka yang berada di Gunung Huawere untuk pertama kalinya mengalami kesulitan untuk mempercayai apa yang mereka lihat.
Setiap kali burung marten putih yang kecil dan lembut itu mengangkat kakinya, anjing-anjing sebesar manusia akan mengikutinya.
Mereka khawatir, bahwa intensitas jungkir-balik itu bisa menyebabkan kerusakan pada Gunung Hua.
“T-Tidak, mereka tidak terlihat akan menggigit orang.” –ucap seorang pendekar pedang
“Apakah itu masalahnya sekarang? Masalah sebenarnya adalah mengapa anjing-anjing itu mendengarkan perintah marten itu?” –ucap seorang seniman bela diri
“…… Aku merasa aneh karena marten itu menunjuk anjing dengan kaki depannya.” –ucap seorang pendekar pedang
Ada sesuatu yang …… sangat tidak logis tentang seluruh situasi ini.
Ketika marten itu sedikit memamerkan giginya, anjing-anjing itu berbaris seperti tentara, semuanya gemetar dan menyelipkan ekor mereka.
Marten putih menganggukkan kepalanya, tampak puas.
Marten itu berperilaku sangat mirip dengan manusia sehingga semua orang kagum sekaligus heran,
“Apa itu Makhluk Mistis?” –tanya seorang seniman bela diri
“Ada Makhluk Mistis di Gunung Hua ini juga?” –tanya seorang pendekar pedang
“…… Aku pikir ‘Makhluk Mistis’ hanyalah sebuah cerita.” –ucap seorang seniman bela diri
Karena sekarang sulit untuk menemukan roh di Jungwon, semua orang menganggapnya aneh dan ganjil.
Haak
Ketika Baek-ah menjentikkan kaki depannya ke samping, anjing-anjing itu bergegas ke bagian belakang aula. Orang-orang kagum dan bertepuk tangan melihat lapangan latihan yang tertata rapi seolah-olah anjing-anjing itu tidak pernah ada di sana.
“Apakah ini kekuatan Klan Namman Yasugung?” –tanya seorang pendekar pedang
“Apa yang kau lihat dengan matamu? Marten itu dibesarkan oleh murid Gunung Hua!” –balas seorang seniman bela diri
“Eh? Benarkah?” –tanya seorang pendekar pedang
“…… Bagaimana aku bisa tahu?” –jawab seorang seninam bela diri
Tidak ada yang bisa menebak situasinya. Jadi, semua orang hanya bisa menjulurkan lidah mereka dengan tidak percaya.
Orang-orang Jungwon perlahan-lahan mulai menyadari bahwa Gunung Hua adalah sesuatu yang berbeda dari sekte biasa.
Namun, para anggota Sekte Gunung Hua juga memiliki perasaan yang aneh.
“…… Ini sudah ditangani.” –ucap Jo-Gol
“Benda itu sangat berguna. Pada awalnya, itu terlihat seperti tidak memiliki tujuan selain menjadi syal.” –ucap Yoon Jong
“Dia lebih baik darimu.” –ucap Jo-Gol
“… Kenapa kau melakukan ini?” –ucap Yoon Jong
Yoon Jong menghela nafas panjang.
“Sementara kita melakukannya, mengapa kau tidak melatih bajingan ini juga, Baek-Ah?” –tanya Yoon Jong
Chung Myung berpikir bahwa, paling tidak, itu akan bisa membuatnya melakukan beberapa tugas dasar. Karena pria itu juga semacam binatang.
“…… Sebenarnya, anjing-anjing itu bukanlah masalahnya.” –ucap Baek Chun
Baek Chun mengalihkan pandangannya dengan wajah Chung Myung menggonggong ……. Tidak, ia memprotes Maeng So.
“Apa kau seorang majikan anjing? Di sini sangat berantakan sekali! Hah?” –seru Chung Myung
“Hahahahat! Jangan khawatirkan hal-hal sepele seperti itu! Di sini,! Aku membawa alkohol yang bagus dari Yunnan karena aku akan bertemu denganmu! Bagaimana dengan minuman yang menyegarkan?” –balas Maeng So
“Berapa banyak botol yang kau bawa? Apa kau membawa banyak?” –tanya Chung Myung
“Aku membawa cukup banyak untuk tenggelam dan mati di dalamnya! Aku sudah bersusah payah membawanya! Bagaimana? Mau mencoba secangkir sekarang?” –tanya Maeng So
“Kedengarannya enak!” –balas Chung Myung
Tangan Baek Chun yang besar menutupi wajahnya.
‘Apa masalahnya dengan anjing-anjing itu? Masalahnya ada pada manusia, pada orang-orang itu.’ –batin Chung Myung
Tidak, tepatnya, masalahnya adalah dengan sesuatu yang bahkan tidak terlihat seperti manusia.
Ini adalah Gunung Hua yang menyedihkan.
Di tempat ini, binatang seperti manusia normal dan manusia seperti binatang hidup berdampingan.
“Baek Chun Dojang.” –panggil Tang Pae
“Ya? Ah, ya! Sogaju-nim.” –sahut Baek Chun
Kemudian Tang Pae mendekati Baek Chun sambil tersenyum.
“Sekarang Namman Yasugungju sudah tiba, aku berniat untuk memilih beberapa penginapan dan mengirim mereka ke Kota Huayin.” –ucap Tang Pae
“Huayin?” –tanya Baek Chun
“Ya, karena tidak semua orang yang datang ke sini bisa tinggal di Gunung Hua, kita membutuhkan akomodasi sementara, seperti yang aku sebutkan sebelumnya, dan orang-orang untuk mengelolanya.” –ucap Tang Pae
Baek Chun mengangguk dengan penuh semangat.
“Aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Terima kasih, Sogaju-nim.” –ucap Baek Chun
Tang Pae menggelengkan kepalanya mendengar ungkapan terima kasih yang tulus itu.
“Ini bukan masalah Gunung Hua saja, ini adalah masalah Aliansi Kawan Surgawi. Akan memalukan jika kau terus mengatakan bahwa aku membantu.” –ucap Tang Pae
“Ah……”
“Dan ….” –ucap Tang Pae
Tang Pae menyeringai.
“Gunung Hua dan Keluarga Tang bukanlah orang asing, meskipun itu hanya urusan Gunung Hua, bukan Aliansi Kawan Surgawi.” –ucap Tang Pae
Baek Chun yang melihat mata Tang Pae segera tertawa bersama.
“Itu benar. Kita bukan orang asing ……” –ucap Baek Chun
“Apa yang kalian lakukan?” –ucap Tang So-so
Namun, terdengar suara yang memecah suasana haru itu. Terkejut, Tang Pae dan Baek Chun perlahan menoleh ke belakang.
“So-So?” –sontak Baek Chun
“So-so…….” –ucap Tang Pae
Tang So-so menatap keduanya dengan mata memerah.
“Sementara yang lain sibuk melayani para tamu hingga sekarat, kalian berdua sepertinya bersenang-senang, ya?” –ucap Tang So-so
“…….”
“…….”
“Kau terlihat lelah. Apakah kau ingin aku menggantikanmu?” –ucap Baek Chun
“… Aku-aku minta maaf.” –ucap Tang Pae
“Sepertinya kami telah melakukan dosa besar.” –ucap Baek Chun
“Apa yang kalian lakukan! Minggir!” -seru Tang So-so
“Ya!” –sahut Tang Pae dan Baek Chun
Tang Pae dan Baek Chun buru-buru berlari.
“Tapi apakah So-so selalu seperti itu dulu?” –tanya Baek Chun
“……Dia tidak separah itu awalnya, tapi setelah dia pergi ke Gunung Hua…..” –jawab Tang Pae
“……Kami mohon maaf.” –ucap Baek Chun
“Ini adalah Gunung Hua!” –seru Maeng So
Maeng So melihat sekeliling dengan wajah sentimental
“Ini lebih indah dari yang aku bayangkan Aku pikir ini akan menjadi tempat yang sederhana dan tenang, karena disebut sebagai kuil Tao.” –ucap Maeng So
“Itu karena ada banyak orang. Dan Keluarga Tang telah berusaha keras.” –ucap Chung Myung
“Tempat yang ramai itu bagus.” –ucap Maeng So
Maeng So tersenyum lebar.
“Aku tidak pernah membayangkan dalam hidupku bahwa aku akan datang ke Jungwon, apalagi Gunung Hua. Berkatmu, aku sangat menikmatinya.” –ucap Maeng So
“Kau harus lebih sering berkunjung ke sini di masa depan.” –ucap Chung Myung
“Hahahat.Tentu saja! Tentu saja!” –seru Maeng So
Maeng So tertawa keras dan mengangguk. Pada saat itu, Tetua Sekte dan Tang Gun-ak keluar dari belakang. Mereka tampak keluar untuk menyambut mereka secara langsung setelah mendengar berita kedatangan Namman Yasugungju.
“Oh! Tang Gaju! Dan di sebelahmu …….” –ucap Maeng So
Mata Maeng So berubah ketika melihat Tetua Sekte.
“Hei, Naga Gunung Hua.” –Bisik Maeng So
“Ya.” –sahut Chung Myung
“Apakah pria itu adalah Tetua Sekte Gunung Hua?” –tanya Maeng So
“Ah, ini pertama kalinya kau melihatnya, kan? Ya, dia adalah Tetua Sekte Gunung Hua, Hyun Jong. Mari aku perkenalkan …….” –balas Chung Myung
Namun Maeng So melangkah ke arah Tetua Sekte bahkan sebelum Chung Myung sempat menyelesaikan kalimatnya. Gerakannya begitu mengintimidasi dan kasar sehingga orang-orang tidak mau menatapnya.
Tanpa harus memperkenalkan satu persatu, tidak sulit untuk mengenali Maeng So sebagai Namman Yasugungju hanya dari sikap dan perilakunya..
Di satu sisi, ada Namman Yasugungju.
Dan di sisi lain, Gaju dari Keluarga Tang Sichuan, Saint Sichuan, dan Tetua Sekte Gunung Hua, yang memiliki momentum paling besar baru-baru ini.
Saat tiga raksasa yang mengguncang Jianghu saat ini bertemu, semua orang menelan air liur kering mereka.
Maeng So terlihat garang pada pandangan pertama. Penampilannya lebih dari sekedar liar. Selain itu, bukankah dia orang luar yang tidak terbiasa dengan etiket Jungwon?
Mata semua orang dipenuhi dengan ketegangan karena berpikir bahwa sesuatu yang tidak terduga akan terjadi
Sesaat kemudian, Tetua Sekte menyeringai dan memberi hormat kepada Yasugungju
“Selamat datang di Gunung Hua Gungju-nim. Aku telah mendengar banyak tentang perbuatan besar Klan Namman Yasugung dan Kepala Klan dari Tang Gaju dan murid-muridku. Seharusnya aku mengunjungi dan menyapamu lebih awal, tapi aku tidak bisa menemukan kesempatan yang tepat. Mohon maafkan sikapku yang tidak sopan ini.” –ucap Tetua Sekte
Sudah menjadi etika untuk membalas dengan sikap hormat yang sama. Tapi Maeng So memilih cara lain daripada sikap sopan santun.
Gedebuk
Dia mundur selangkah dan membungkuk dalam-dalam
Semua orang melihat ke arah pemandangan itu dan tersontak.
Etika memberi hormat digunakan ketika kedua belah pihak setara. Tapi sekarang, Maeng So menundukkan kepalanya alih-alih memberi hormat.
Semua orang tidak dapat memahami perilakunya. Tapi kemudian Maeng So berbicara dengan suara keras.
“Tetua!” –seru Maeng So
Semua orang di ruangan itu kaget mendengar suara Maeng So.
“Merupakan kehormatan terbesar untuk bertemu dengan Tetua Sekte dari Sekte Gunung Hua yang agung!” –seru Maeng So
Mulut orang-orang Jungwon terbuka lebar.
Ini adalah Klan Namman Yasugung
Tentu saja, orang-orang Jungwon cenderung mengucilkan dan mengabaikan sekte-sekte dari luar daerah dan pada kenyataannya, kekuatan klan Luar tidak cocok dengan para pemimpin tertinggi dari Sepuluh Sekte Besar. Namun, Namman Yasugungju masih merupakan salah satu dari Lima Klan Luar Besar.
Meskipun Gunung Hua telah membuat langkah besar baru-baru ini, itu belum bisa mendekati Namman Yasugungju.
Tapi sekarang tepat di depan mata mereka, Yasugungju Maeng So memberikan penghormatan tertinggi kepada Tetua Sekte Gunung Hua.
Bahkan Tetua Sekte pun malu tapi juga bingung.
“Gu- Gungju-nim. Aku tidak bisa menerima penghormatan yang berlebihan seperti itu.” –ucap Tetua Sekte
“Tidak!” –seru Maeng So
Tapi Maeng So tiba-tiba mengangkat kepalanya, melototkan matanya yang sudah Nampak galak, dan berseru.
“Aku tidak menyesal berada di sini sekarang Atas nama semua orang dari Klan Namman Yasugung, dan semua orang yang tinggal di Yunnan! Aku berterima kasih atas anugerah Saint Pedang Bunga Plum, yang melindungi Yunnan, dan aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sekte Gunung Hua, sekte tempat Saint Pedang Bunga Plum berasal!” –seru Maeng So
Maeng So meletakkan kedua tangan di dadanya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam sekali lagi Meskipun sikapnya berbeda dengan etiket Jungwon, jelas bagi siapa pun bahwa dia benar-benar menunjukkan rasa hormat.
Hal ini menambah kredibilitas pernyataan Maeng So beberapa waktu lalu.
“Apakah Saint Pedang Bunga Plum menyelamatkan Yunnan…?” –tanya seorang tamu
“Siapa Saint Pedang Bunga Plum?” –tanya seorang tamu
“Ah! Orang yang merupakan salah satu dari Tiga Pendekar Pedang Besar di dunia selama pertarungan melawan Sekte Iblis seratus tahun yang lalu.” –ucap seorang tamu
“Apa? Gunung Hua menghasilkan Tiga Pendekar Pedang Besar di dunia? Tapi kenapa aku tidak tahu? Dan jika Namman Yasugungju menunjukkan rasa hormat seperti itu, bukankah perbuatan Saint Pedang Bunga Plum pasti luar biasa? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya?” –ucap seorang tamu
“Aku, aku juga belum pernah mendengar cerita ini.” –ucap seorang tamu
Kebingungan melintas di wajah orang-orang Jungwon.
Namun, sebelum mereka bisa mengumpulkan pikiran mereka, Maeng So meraung lagi.
“Tidak ada cara untuk membalas budi karena telah menyelamatkan nyawa kami! Klan Namman Yasugung akan menjadi teman abadi Gunung Hua, dan akan memperlakukan musuh-musuh Gunung Hua sebagai musuh Klan Namman Yasugung! Tetua Sekte, tolong jangan menolak kehendak Klan Namman Yasugung!” –seru Maeng So
Tetua Sekte sejenak memalingkan wajahnya, merasakan sensasi perih di ujung hidungnya.
Tidak ada yang tahu apa yang dia rasakan.
Alasan mengapa dia harus memendam rasa penyesalan bahkan ketika orang-orang berbondong-bondong datang ke Sekte Gunung Hua adalah karena dia pikir tidak ada yang tahu bahwa Sekte Gunung Hua pernah seperti ini.
Tapi sekarang Maeng So telah merendahkan postur tubuhnya di hadapan semua orang untuk menyebutkan nama-nama Gunung Hua dan Pedang Bunga Plum yang berdaulat di masa lalu.
“…… Itu sudah lama sekali. Tidak perlu…… ” –ucap Tetua Sekte
“Tidak mungkin!” –seru Maeng So
Maeng So berteriak dengan marah.
“Apa artinya waktu jika itu menyangkut nyawa Klan Yasugungju, dan Yunnan! Lebih jauh lagi, membahas anugerah Pedang Plum yang menyelamatkan dunia dari cengkeraman jahat para Iblis!” –seru Maeng So
“…….”
“Bahkan jika ribuan tahun telah berlalu, bukan hanya seratus tahun, itu tidak boleh dilupakan!” –seru Maeng So
“… Terima kasih banyak.” –ucap Tetua Sekte
Maeng So, yang telah mengangkat kepalanya, tersenyum tipis.
“Aku membawa hadiah yang bagus dari Yunnan! Banyak yang harus kita bicarakan, ayo masuk ke dalam.” –ucap Maeng So
“Ya, kita harus.” –ucap Tetua Sekte
Semua orang yang menyaksikan adegan mengejutkan itu tidak dapat menyembunyikan kekecewaan mereka saat melihat ketiga orang itu pergi.
Keheningan yang aneh tetap menyelimuti ruangan itu.
Dan dalam keheningan itu, sebuah suara aneh yang sangat samar terdengar.
Kepala orang-orang menoleh dengan tajam.
Chung Myung, yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Kekekek…….” –tawa Chung Myung
“…….”
Tapi kenapa dia tertawa?
Tidak ada yang tahu kenapa.
Dan kemudian, pada saat itu.
“Klan Es!” –seru seorang murid Gunung Hua
“Klan Es Laut Utara telah tiba!” –seru seorang murid Gunung Hua
Sebuah suara keras datang dari luar gerbang, tidak menyisakan waktu untuk menenangkan pikiran mereka.
