Join channel kami untuk informasi ter-update: Channel Telegram Tetua Sekte
Project utama: Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia
MANHWA CHAPTER 77 lanjut baca di novel Chapter 124, gas kan!

Return of The Mount Hua – Chapter 372

Return of The Mount Hua – Chapter 372

Aku Setuju Denganmu. (Bagian 2)

 

“…Apa yang baru saja Kau katakan?” -ucap Yo-pyong

 

“kau tidak terlihat terlalu tua, namun apakah kau sudah tuli?” -ucap Chung Myung

 

Chung Myung mengangkat telinganya dan mengangkat bahu.

 

“Ha ha ha.” -tawa Yo-pyong

 

Pedang Ular Merah Yo-pyong tertawa rendah dengan campuran absurditas dan kemarahan.

 

“Kau tahu siapa aku, anak muda?” -tanya Yo-pyong

 

“Haha. Aku sangat tahu tentangmu, kau kan…….” -ucap Chung Myung terputus

 

Chung Myung tersentak saat dia mencoba mengatakan sesuatu

 

“Eh…….” -sontak Chung Myung

 

Kemudian dia memutar kepalanya dan melihat ke belakang.

 

“Tadi,, siapa dia? Aku lupa” -tanya Chung Myung

 

“…….”

 

“…….”

 

Murid-murid Gunung Hua menundukkan kepala mereka serempak.

 

‘Tolong, Chung Myung.’ -batin seorang murid

 

‘Aku tidak pernah berpikir aku akan malu didepan sekte jahat saat bersama denganmu.’ -batin seorang murid

 

“…… Pedang Ular Merah Yo-pyong.” -ucap seorang murid

 

“Oh itu benar!” -seru Chung Myung

 

Chung Myung menoleh lagi.

 

“Sekte Merah Yo-pyong!” -seru Chung Myung

 

“Dia itu Pedang Ular Merah! Pedang Ular Merah! Dasar brengsek!” -teriak seorang murid

 

Pada akhirnya, Yo-pyong yang tidak bisa menahan amarahnya hampir membalikkan matanya tetapi Bang Seung mencengkeramnya dengan erat.

 

“Te- Tenang! Jangan tertipu oleh pemuda seperti itu!” -seru Bang Seung

 

“Huup! Huup! Huup!”

 

Yo-Pyong yang marah mencoba mengatur pernapasannya dan tetap tenang

 

‘Apa-apaan orang ini?’ -batin Yo-pyong

 

Dia telah berkeliling dunia memakai pedangnya. Dia telah bertemu dengan beberapa orang bernama besar dan bertemu banyak orang aneh.

 

Namun, tidak satu pun dari mereka yang membuat Yo-pyong marah hanya dengan beberapa kata.

 

Jika dia menggunakan seni ejekan maka itu mengesankan, jika dia tidak… Yah, itu bahkan lebih baik.

 

“…..Kupikir kau memiliki banyak energi untuk seorang pria muda, tapi kurasa kau hanya orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara Surga dan Bumi.” -ucap Yo-pyong

 

Namun, bahkan sebelum Yo-pyong dapat terus mengatakan sesuatu, Chung Myung menggelengkan kepalanya dan menghela napas dalam-dalam.

 

“Dunia telah meningkat pesat. Aku tidak percaya bahwa hari telah tiba ketika Sekte Jahat melontarkan omong kosong dan dia sendiri jelas mengetahui bahwa orang-orang di depannya adalah Gunung Hua.” -ucap Chung Myung

 

“… jaga moncongmu.” -ucap Yo-pyong

 

Yo-pyong terdiam.

 

Beraninya dia mengatakan itu di depannya? Murid Gunung Hua itu?

 

“Bukannya dia tidak tahu dunia, tapi dunia itu salah. Yah, tidak apa-apa. Kami akan mencari tahu secara bertahap. Jadi, apa yang ingin kau lakukan? Apakah kau ingin dihajar di sini? Atau kau ingin pergi dari sini?” -ucap Chung Myung

 

“Kau bajingan gila!” -seru Yo-pyong

 

Yo-pyong meraih pedangnya dan mencoba untuk bergegas maju.

 

“Pe-Pemimpin!” -teriak Bang Seung

 

Tapi Bang Seung dengan cepat menangkapnya.

 

“Lepaskan aku!” -teriak Yo-pyong

 

“Te- Tenang! Hidungmu akan sakit jika menurutmu itu mudah. Dia adalah Naga Gunung Hua, yang terkenal di Kangho akhir-akhir ini.” -ucap Bang Seung

 

“…Naga Gunung Hua?” -tanya Yo-pyong

 

“Benar.” -ucap Bang Seung

 

Setelah mendengar kata-kata Bang Seung, Yo-pyong menatap Chung Myung dengan mata merah.

 

“Kupikir kau hanya pemuda yang lemah, tapi ternyata kau adalah Naga Gunung Hua.” -ucap Yo-pyong

 

Suaranya, bercampur dengan teriakan yang seperti binatang buas, sangat menakutkan.

 

“Tapi bagaimanapun, itu hanya bintang yang sedang naik daun. Beraninya Gunung Hua menghalangi jalan kami, seharusnya Sekte Ujung Selatan yang menghalangi jalan kami! Kalian adalah orang-orang yang perlu dipenggal kepalanya untuk memahami situasi ini!” -seru Yo-pyong

 

Kuung!

 

Yo-pyong, yang melepaskan tangan Bang Seung, langsung melangkah maju. Pada saat yang sama, energi menakutkan mulai menyembur keluar dari tubuhnya seperti badai.

 

Jo-Gol, berdiri di belakang Chung Myung, menggigit bibirnya. Rambutnya berkibar, dan rasanya seperti seluruh kulitnya ditusuk dengan jarum.

 

‘Aku tidak mengira akan seburuk ini.….’ -batin Jo-Gol

 

Tidak ada yang istimewa, tetapi kekuatan itu sendiri sudah pasti merupakan ancaman.

 

Yo-pyong, yang berhasil mengancam semua murid Gunung Hua dalam satu tindakan, berkata sambil menggertakkan giginya.

 

“Jika kalian masih akan mengganggu kami, kalian semua…….” -ucap Yo-pyong

 

“Yah, kau terlalu banyak bicara.” -potong Chung Myung

 

“…….”

 

Mata murid-murid Gunung Hua semuanya ada di belakang kepala Chung Myung.

 

“Akhir-akhir ini, kalian bertarung dengan mulut saja. Kenapa kau banyak bicara? Hei, datanglah padaku jika kau ingin bertarung. Apakah kau takut?” -ucap Chung Myung

 

“…….”

 

Jo-Gol menoleh.

 

Yoon Jong, yang berdiri di sampingnya, juga menatap Jo-Gol seolah itu sudah biasa.

 

‘Sahyung.’ -batin Jo-Gol

 

“Ya, aku tahu bagaimana perasaanmu.” -ucap Yoon Jong

 

“Kau…….” -ucap Yo-pyong

 

Saat itu, Bang Seung melangkah maju.

 

“Daeju. Beri aku waktu sebentar…….” -ucap Bang Seung

 

“Minggir!” -seru Yo-pyong

 

“Jangan terlalu bersemangat. Kenapa kau begitu marah pada anak kecil? Jika kau melawan bocah, kau hanya akan kehilangan reputasi sebagai Daeju.” -ucap Bang Seung

 

“Uh.”

 

Yo-pyong yang tidak mengendurkan kesan kusutnya, tetap menyingkir sambil mengatupkan giginya seakan kata-kata itu tidak terlalu salah.

 

Bang Seung memberi Chung Myung sekilas seolah dia menarik dan menoleh ke Tetua Keuangan. Dia pikir lebih baik berurusan dengan seseorang yang terlihat seperti Tetua daripada anak kecil yang hanya hidup dengan mulutnya.

 

“Sepertinya kau Tetua Gunung Hua, betapa cerobohnya kau sekarang …….” -ucap Yo-pyong

 

Ppaak.

 

“…….”

 

Semua orang menatap Bang Seung dengan mata bingung mendengar suara yang tiba-tiba itu.

 

Saat dia berbicara, sebuah sepatu dari suatu tempat terkunci di mulutnya.

 

“…….”

 

“…….”

 

Sementara itu tidak ada yang tahu bagaimana mereka harus bereaksi, Bang Seung jatuh ke tanah.

 

Bam.

 

Suara orang jatuh sangat menyedihkan untuk didengar.

 

“Benar sekali.” -ucap Chung Myung

 

Chung Myung membuka mulutnya dengan wajah kesal.

 

“Bajingan ini terlalu banyak bicara!” -ucap Yo-pyong

 

“…….”

 

“…….”

 

Baek Chun melihat pemandangan itu dengan senyum di wajahnya.

 

‘Chung Myung-ah.’ -batin Baek Chun

 

‘Kau tidak boleh melempar sepatu ke mulut pembicara. Itu sedikit berlebihan.’ -batin Baek Chun

 

Chung Myung menyipitkan matanya.

 

“Bajingan. Sejak kapan kalian berani membuka mata dan memainkan mulutmu di depan Gunung Hua? Di masa lalu, kalian bahkan tidak berani melakukan kontak mata.” -ucap Chung Myung

 

“…Chung Myung, tenanglah.” -ucap Yoon Jong

 

“…Karena aku manusia, jadi aku akan membiarkanmu berbicara.” -ucap Chung Myung

 

“Sepertinya dia pingsan.” -ucap Jo-Gol

 

Dia tidak terlihat kuat, tapi… Tidak peduli apapun itu, sangat menyedihkan jika dia pingsan hanya karena tertabrak sepatu.

 

Berapa banyak rasa malu yang akan dia derita ketika dia bangun?

 

Baek Chun menyadari satu hal lagi saat melihat Chung Myung.

 

‘Lagipula, tidak ada orang yang se brengsek orang ini.’ -batin Baek Chun

 

Dia memperlakukan semua orang sama, terlepas apakah dia anggota faksi Benar atau Jahat

 

Tapi sepertinya ada beberapa yang tidak berpikir demikian.

 

“…….”

 

Yo-pyong tertawa terbahak-bahak sambil tetap menatap Bang Seung yang kejang-kejang.

 

“Yah, itu konyol.” -ucap Yo-pyong

 

Tapi bertentangan dengan apa yang dia katakan, energi biru mengalir keluar dari matanya.

 

“Kau pria kecil.” -ucap Yo-pyong

 

“Ada apa pria tua?” -ucap Chung Myung

 

“…… kalian yang memulai semua ini. Jangan salahkan kami jika kalian terbunuh.” -ucap Yo-pyong

 

“Ya, ya, jangan salahkan kami juga.” -ucap Chung Myung

 

“…….”

 

Yo-pyong tidak lagi bersemangat. Dia baru saja memuntahkan energi yang dingin dan tajam seperti pisau.

 

Tidak perlu percakapan lagi.

 

“Aku akan melihat akhir dari Sekte Gunung Hua di sini hari ini! Semua…….” -ucap Yo-pyong

 

Saat Yo-pyong hendak mengeluarkan perintah penyerangan.

 

“Semua! Pukul mereka! Hancurkan mereka!” -teriak Chung Myung

 

“… Hei! Jika kau mengatakan itu, kau malah membuat kita lebih seperti Sekte Jahat!” -seru Yoon Jong

 

“Aku datang!” teriak JoGol

 

Jo-Gol tidak menunggu kata-kata Yo-pyong dan mulai memukuli mereka. Segera setelah itu, semua murid Gunung Hua menghunus pedang mereka dan bergegas masuk ke pertempuran itu.

 

“Apa.” -sontak Yo-pyong

 

Yo-pyong, yang kehilangan inisiatif, tersentak saat melihat para murid bergegas masuk.

 

‘Tidak… Apa-apaan orang-orang ini?’ -batin Yo-pyong

 

Bukan sekali atau dua kali dia bentrok dengan faksi Benar saat memimpin Pedang Ular Merah, dan dia belum pernah melihat orang seperti itu sebelumnya.

 

“Bunuh mereka! Bunuh mereka semua!” -teriak Yo-pyong

 

Saat Yo-pyong berteriak panik, Pedang Ular Merah terlambat berlari menuju Gunung Hua.

 

Di tengah Xian, Pedang Ular Merah dari Myriad Man House dan para murid sekte Gunung Hua bergegas menuju satu sama lain.

 

‘Huup!’

 

Jo-Gol menggertakkan giginya.

 

Jantungnya berdetak kencang dan darah mengalir ke wajahnya. Tangan yang memegang pedang itu bergetar luar biasa.

 

‘Sialan, tenanglah!’ -batin Jo-Gol

 

Ini bukan pertama kalinya dia berurusan dengan yang kuat.

 

Itu semua karena Chung Myung itu, tetapi Jo-Gol telah mengalami beberapa hal yang tidak dapat dimiliki oleh murid kelas tiga dari sekte biasa.

 

Tapi itu dan ini jelas masalah yang berbeda. Pertama-tama, pedang mereka tidak pernah dimaksudkan untuk menaklukkan atau sekadar menjatuhkan Jo-Gol. Ini untuk mengambil nyawanya dengan menebas leher lawan.

 

Tentu saja, di masa lalu, dia telah berjuang untuk hidupnya dalam proses mendapatkan Chaos Origin Pill. Tapi sejujurnya, itu lebih seperti menonton pertarungan Chung Myung.

 

Ini adalah pertama kalinya menghadapi pedang secara langsung dengan orang yang bertekad untuk membunuhnya.

 

Mungkin itu sebabnya?

 

‘Sialan!’ -batin Jo-Gol

 

Rasanya tubuhnya tidak bergerak dengan benar. Tidak peduli seberapa tenang dia berusaha, dia tidak bisa mengendalikan panasnya.

 

Swaeeek!

 

Pada saat itu, seorang pria Pedang Ular Merah yang berlari ke arahnya mengayunkan palu besar dan membantingnya ke kepala Jo-Gol.

 

‘Oot.’

 

Jo-Gol mengangkat pedangnya dengan wajah memerah.

 

“… Apakah akan baik-baik saja?” -tanya Tetua Keuangan

 

“Apa?” -sahut Chung Myung

 

Tetua Keuangan terlihat khawatir dan bertanya pada Chung Myung.

 

“Bukankah ini pertama kalinya mereka mengalami pertempuran sungguhan? Tentu saja, aku percaya pada mereka, tapi aku khawatir mereka akan terluka karena mereka tidak bisa menunjukkan keahlian mereka.….” -ucap tetua keuangan

 

“Oh itu?” -ucap Chung Myung

 

Jawab Chung Myung dengan wajah masam.

 

“Yah …… itu bukan masalah besar.” -ucap Chung Myung

 

Kata Chung Myung sambil menyeringai.

 

“Jangan khawatir. Aku sudah mengaturnya.” -ucap Chung Myung

 

“Setahuku, mereka tidak pernah mendapat pelatihan seperti itu. Apakah ada yang aku tidak tahu?” -tanya Tetua Keuangan

 

“Tidak, itu benar.” -ucap Chung Myung

 

“……lalu?” -ucap Tetua Keuangan

 

Saat Tetua Keuangan balik bertanya dengan tatapan tak percaya, Chung Myung mengangkat bahu.

 

“Pelatihan yang pernah para tetua lihat sebelumnya akan berhasil.” -ucap Chung Myung

 

“……Hah?” -sontak Tetua Keuangan

 

“Yah… ‘bahwa aku tidak bisa menunjukkan keahlianku karena aku gugup’, atau bahwa ‘aku melakukan kesalahan dan mati dengan sedih’. Apakah Kau khawatir tentang hal seperti itu?” tanya Chung Myung

 

“Betul sekali.” -balas Tetua Keuangan

 

“Pernahkah tetua melihat harimau yang gugup lalu dipukuli sampai mati oleh kelinci?” -tanya Chung Myung

 

“…Aku belum melihatnya.” -balas Tetua Keuangan

 

Tidak, itu tidak boleh terjadi.

 

Chung Myung mengangguk seolah setuju.

 

“Alasan untuk tidak bisa tampil dengan baik dan gugup adalah untuk mereka yang biasanya tidak berlatih dengan benar. Pertama-tama, latihan harus didasarkan pada premis bahwa kau tidak akan bisa menunjukkan kemampuanmu karena gugup. .” -ucap Chung Myung

 

“…….”

 

“Kemudian para murid…….” -ucap Tetua Keuangan

 

Chung Myung menyeringai.

 

“Aku akan membuat mereka menyesal jika mereka tidak mengalahkan bajingan Sekte Jahat.” -ucap Chung Myung

 

“…….”

 

Tetua Keuangan melihat ke depan dan menutup matanya rapat-rapat.

 

‘Tolong jangan terluka, murid-muridku.’ -batin Tetua Keuangan

 

‘Kurasa aku tidak akan melihat hal yang baik jika kalian terluka.’ -batin Tetua Keuangan

 

Kaang!

 

Penyumbatan pedang memantulkan kembali pedang yang menyerang.

 

Di antara mereka yang menyerang dan memblokir, yang lebih terkejut adalah yang memblokir.

 

Jo-Gol melihat ke arah musuh, yang memiliki wajah bingung, dengan pandangan yang sedikit kosong.

 

‘Apa….’ -batin Jo-Gol

 

Mengapa itu memantul?

 

Tidak, dia tidak mendorong mereka.

 

Tetapi tidak ada waktu untuk berpikir secara mendalam. Prajurit Pedang Ular Merah telah memulihkan pedangnya dan bergegas kembali dengan wajah jahat.

 

Tetapi.

 

Semangat ganasnya tentu luar biasa. Tapi kecepatan terbangnya agak berbeda dari yang dipikirkan Jo-Gol.

 

Sebaliknya, pedang musuh jauh lebih cepat dan lebih kuat.

 

Kaang!

 

Pedang dan pedangnya bertabrakan lagi. Pedangnya, membawa energi pedang biru, menggali satu inci ke dalam energi merah prajurit itu.

 

“K-Kau bocah nakal!” -teriak anggota pasukan pedang ular merah

 

Musuh berteriak kencang, mendorong pedang, dan mendorong bahunya ke dalam.

 

Jo-Gol mundur sedikit selangkah dari gerakan musuh dengan wajah yang aneh. Kemudian, postur pria itu ambruk.

 

“Haat!”

 

Dan Jo-Gol tidak melewatkan celah dalam postur itu. Sebelum kepalanya berpikir, pedang itu bergerak lebih dulu dan memotong bahu musuhnya yang terbuka.

 

“Keuk!”

 

Musuh memutar tubuhnya dan melangkah mundur.

 

Darah dari pundaknya menyembur dan membasahi tanah menjadi merah.

 

“Hoo…….” -ucap Jo-Gol

 

Jo-Gol menggulung sudut mulutnya.

 

Dan dengan wajah yang lebih santai dari yang pertama kali, dia dengan lembut mengacungkan pedangnya dan menggelengkan kepalanya.

 

“Ini tidak seperti yang kukira? Kau tidak menakutkan.” -ucap Jo-Gol

 

“K-Kau bajingan!” -ucap anggota pasukan pedang ular merah

 

Jo-Gol mengintip ke belakang.

 

Tidak mengherankan, Chung Myung menatap mereka dengan wajah masam.

 

Di telinga Jo-Gol, terdengar suara Chung Myung.

 

“Hancurkan!” -seru Chung Myung

 

Ayo!

 

Setelah kepercayaan dirinya pulih sepenuhnya, Jo-Gol menyerbu musuh dengan senyum jahat yang menyerupai Chung Myung.

 

“Aku akan mematahkan leher kalian!” -teriak Jo-Gol

 

Pedang Jo-Gol, yang semangatnya 100 kali lebih tinggi, mulai menyapu para anggota pasukan pedang ular merah tanpa ragu.


** 20 Chapter terbaru KLIK TRAKTEER**


 
**JOIN GRUP TELEGRAM**
https://t.me/Tetuasektegununghua

Comment

Options

not work with dark mode
Reset